Tugas Akhir » Detail Tugas Akhir
Pemahaman Masyarakat Pesantren Terhadap Prosedur Penjatuhan Talak (Studi Efektivitas KHI di Indonesia dan Fiqih Islam di Masyarakat Pondok Pesantren Darul Ulum Desa Peterongan Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang)
Penulis : Nur Qomarotul M
Tahun : 2010
Fakultas : Syariah
Jurusan : Ahwal Syakhshiyah
Pembimbing : 1) Mujaid Kumkelo, S. Ag., M. H.  
Kata Kunci : Pemahaman Masyarakat Pesantren, Prosedur, Talak
Pada dasarnya hak penjatuhan talak itu ada pada tangan suami akan tetapi
sebagai pimpinan rumah tangga suami tidak di benarkan berbuat kekerasan terhadap
istri terlebih dalam hal mentalak istri karena menurut Fiqih Islam jika suami sudah
menjatuhkan kata talak terhadap istri maka sudah dikatakan jatuh talak, hal ini
berbeda dengan talak yang ada dalam Kompilasi Hukum Islam dalam pasal 115 yang
berbunyi“perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan agama
setelah pengadilan agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua
belah pihak”.
Dari perbedaan aturan hukum yang ada maka peneliti mengadakan penelitian
ini dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana proses dan prosedur yang ditempuh
masyarakat pesantren ketika melakukan talak (perceraian), serta Bagaimana
pemahaman mereka terhadap Prosedur penjatuhan talak menurut KHI dan Fiqih
Islam.
Agar penelitian ini berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh
peneliti, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif
dengan jenis penelitian field research. Sedangkan data yang dikumpulkan berupa
data primer dan sekunder yang dilakukan dengan teknik wawancara dan
dokumentasi. Untuk mempermudah dalam pengecekan datanya maka dalam
pengecekan keabsahan datanya peneliti menggunakan dua metode yaitu triangulasi
dan pemeriksaan sejawat melalui diskusi yang selanjutnya data yang ada tersebut di
edit, diperiksa dan disusun secara cermat serta diatur sedemikian rupa yang
kemudian dianalisis dengan deskriptif kualitatif.
Adanya pemahaman masyarakat terhadap prosedur penjatuhan talak itu
kebanyakan dari mereka menganggap bahwa ketika suami sudah menjatuhkan talak
terhadap istrinya maka sudah dianggap jatuh atau sah walau tidak diucapkan di
depan Pengadilan Agama, sedangkan hal ini bertentangan dengan Pasal 115 KHI
bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan agama setelah
pengadilan agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah
pihak.
Meski demikian masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa
Pengadilan Agama hanyalah sebagai legalitas saja. Mereka lebih mengacu pada
prosedur talak menurut agama yakni fiqih karena mereka berasalan bahwa dasar
rujukan fiqih adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits sedangkan dasar hukum aturan
pemerintah adalah Undang-undang yang di buat oleh manusia yang juga bisa salah.
Dalam aplikasinya perceraian menurut KHI sudah dilakukan oleh banyak masyarakat
tetapi masih ada juga masyarakat yang tidak melakukan perceraian melalui prosedur
KHI ini .

Laporkan Error || Halaman Sebelumnya